Pages

Virginity philosophy

Virginity philosophy

A little history, why virginity is very important.

Virginitas melambangkan suatu purity atau kesucian kaum cewek yang harus dijaga sampai married. Konsep virginitas dating dari istilah my body is my temple. Jiwa raga seorang perempuan adalah suatu kuil suci yang harus dipertahankan. Its hard now?

Pada zaman rekiplik dulu, keperawanan itu harus dijaga bener**. Di Inggris, doeloe seorang ibu harus menjamin keperawanan anak perempuannya dengan cara mengunci kemaluannya dengan baja berbentuk “bikini” yang beratnya hampir 12 kilogram, tameng vagina itu dikasih nama chasity. Di Amrik, kalo ada cowok nginep di rumah seseorang yang memiliki anak putrid, si cowok harus rela seluruh badannya (kecuali kepala) dimasukan dalam karung yang dijahit langsung oleh ibunya. Memang aneh, tetapi itulah harga sebuah keperawanan. But now, more sex for sale?

What is virginity?

Gimana sih, sebetulnya hilangnya keperawanan? Ada dua acuan yakni secara psikologis dan secara fisik. Well, secara fisik keperawanan hilang ditandai dengan robeknya bibir vagina (selaput dara) inilah malapetaka yang biasanya dihindari oleh para lelaki pada “malam pertama” mereka. Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa sebenarnya ada perubahan fisik lain yang lebih konkrit, karena robeknya selaput dara tidak selalu diakibatkan oleh penetrasi penis, tetapi juga dapat diakibatkan oleh cedera seperti jatuh, terbentuk, dan sebagainya. Aha! Pacar kamu punya alasan itu? Para ahli mengatakan bahwa kadang penetrasi penis tidak selalu menyebabkan robeknya bibir vagina. Tetapi sebenarnya ada perubahan pembentukan hormon pada wanita akibat orgasme. Fuih! Klimaks dari hubungan seks. Inilah penyebab utama perubahan fisik dalam seorang perempuan. Sesudah mengalami orgasme muncullah perubahan suatu fisik yang sangat signifikan walaupun tidak terlihat secara konkrit. Yakni pelebaran pada bagian dibawah pusar, yakni pada tulang pelvis (pinggul) dan pada dinding uterus (janin). Otot-otot yang menyokong vagina menjadi agak lunak karena perubahan beban, sehingga berubah bentuk. [silakan dicek!]. Makanya ada mitos bahwa wanita yang sudah tidak perawan pantatnya turun, walaupun demikian perubahan ini hasilnya bervariasi, tergantung aktivitas fisik masing-masing seseorang dan frekuensi kegiatan seks tersebut. Perubahan yang paling konkrit biasanya terjadi pada peruempuan yang jarang berolah raga dan sering duduk. Perubahan ini terjadi akibat penegangan otot janin yang luar biasa tetapi terganjal oleh penis (sewaktu berhubungan seks) sehingga memaksa otot bagian dalam untuk merenggang melampaui batas normal (pada saat orgasme biasanya lapisan otot janin menegang). Otot-otot tsb lalu (akibat terganjal) melembut atau tidak sekencang seperti sebelumnya. Faktor besar kecilnya penis juga dapat memberi efek ang berbeda pula dengan demikian perempuan yang biasanya melakukan masturbasi tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Brain storming on virginity

Seorang perempuan akan ditakdirkan untuk menjadi seorang perempuan, lalu kewanitaannya akan, lalu kewanitaannya akan lengkap bila sudah menjadi seorang ibu, jadi keperawanan tidak selamanya bisa dipertahankan, secara deduktif hanyalah masalah waktu, kapan wanita seharusnya bersedia menyerahkan keperawanannya? Di sisi lain keperawanan juga menjadi beban, bagi wanita yang telah kehilangan keperawanannya akan merasa tidak dihargai oleh orang lain sehingga dianggap aib oleh masyarakat, tindakan defensif ini dilakukan dengan menutupinya sebagai rahasia, pantaskah wanita yang tidak perawan disetarakan kedudukannya dengan wanita yang masih perawan?

Suatu masyarakat akan mengerti hal tersebut tergantung dengan bagaimana masyarakat itu menghargai makna tersebut. Indonesia sebagai negara yang beragama pasti berpegangan pada pola yang konservatif yakni yang biasanya kolot dan tradisional berpegang teguh pada nilai-nilai moral, pasti mereka akan lebih menghargai virginitas. Tetapi sekarang semuanya berbeda. Pergaulan yang berkonotasi “sex bebas” sudah dijalani oleh para generasi muda di Jakarta dan kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta yang notabene sebagai kota mahasiswa, mereka yang biasanya jauh dari orang tua sehingga berperilaku bebas. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta usat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) pada tahun 2002 menunjukkan hampir 97.05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.

Suatu hasil yang mengejutkan untuk suatu komunitas yang sangat erat dengan nilai moral dan agama. Melalui pernyataan tadi dapat dikatakan bahwa keperawanan sudah tidak ada artinya sekarang tetapi masih ada beberapa orang yang masih menghargai kesucian itu baik bagi perempuan maupun laki-laki. Karena hal ini masih menjadi permasalahan social. Hal ini disebabkan oleh adanya larangan dalam agama dalam melakukan hubungan seks diluar nikah (pre-marital sex). Hubungan seks di luar nikah serta dampak yang ditimbulkan perempuan memang lebih malang dibandingkan lelaki. Ketika proses hubungan seksual di luar nikah itu berlangsung dan berbuah kehamilan, pihak yang paling banyak menerima kerugian adalah remaja putrid.

Nilai-nilai dimasyarakat sendiri memang masih menempatkan urusan virginitas sebagai hal “segala-galanya” sehingga ketika “keperawanan” itu hilang, maka berarti pula “hilang seluruh hidup dan masa depannya”. Seorang calon mertua bisa menggagalkan acara pernikahan yang sudah dirancang jauh-jauh hari dan berbiaya besar hanya gara-gara pada saat akan dilakukan ijab Kabul mengetahui bahwa calon menantunya sudah tidak perawan lagi. Sebaliknya, orang tua gadis/remaja putrid “tidak pernah” mempersoalkan apakah calon menantu prianya itu sudah hilang keperjakaannya atau memang masih perjaka “tingting”.

Sementara kalo dilihat dari hubungan gender, menempatkan urusan “kesucian” dan “keperawanan” sebagai sesuatu yang identik dengan perempuan, jelas ini sangat diskriminatif. Status “gadis tapi bukan perawan” sering memojokkan pihak mereka karena jelas-jelas menurunkan derajatnya dalam masyarakat kita.

Perlakuan ini terutama mengarah pada pandangan bahwa perempuan yang sudah tidak perawan dianggap sebagai “cewek murahan”, tak bisa menjaga diri atau akan sulit mendapatkan pasangan hidup. Perempuan yang tidak perawan biasanya sulit diterima oleh para lelaki karena sudah ternodai, istilah kasarnya “barang bekas”. Hal sebaliknya, justru tidak terjadi pada laki-laki, yang tidak pernah sekalipun ditanyakan factor “kesucian” atau “keperjakaannya”. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Udah seharusnya kaum adam jangan pernah bermain-main dan menganggap remeh dengan konsekwensi atas perlakuan terhadap wanita. Pria memang munafik plus jayus. Sebagai pihak yang turut berperan bagi hilangnya keperawanan gadis/remaja, pria masih saja menuntut sesuatu yang hilang tsb. Keperawanan seorang perempuan hilang akibat perempuan memberi kepercayaan yang terlalu besar kepada lelaki.

Keperawanan merupakan suatu pembahasan social yang terus dipermasalahkan. Sekarang dunia sudah memasuki proses hidup yang lebih rumit, masalah keperawanan bukanlah masalah sepele, gara-gara hal ini mungkin seorang lelaki bisa putus cinta akibat sakit hati, karena suatu hal yang dia tidak dapat terima.

This is reality!

(Andrazakki2decide)
sumber:http://memory20020.tripod.com/virginity.htm
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...