Pages

Seandainya Rasulullah Datang ke Rumah Kita


Bayangkan bila Rasulullah SAW dengan seizin Allah tiba-tiba datang mengetuk rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dengan muka yang bersih di depan pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan masuk ke ruang tamu. Kemudian kita tentu akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita.
Beliau tentu tersenyum...

Tapi barangkali kita meminta Rasulullah untuk menunggu di depan pintu sebentar karena teringat akan kaset film holywood yang berbintangi oleh artis-artis panas yang tergeletak banyak di meja tamu. Kita tergesa-gesa memindahkannya ke tempat lain agar Rasulullah tidak melihatnya.

Beliau tentu tersenyum...
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang  yang ada di atas kamar tamu, sehingga terpaksa kita memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan langsung menggantinya dengan lafadz Allah dan Muhammad disana juga dengan tergesa-gesa.

Beliau tentu tersenyum...

Bagaimana bila Rasulullah bersedia menginap di rumah kita. Barangkali kita merasa malu karena kita merasa sering telat shalat, jarang pergi ke masjid, jarang mengaji dan mengajari anak-anak kita.

Beliau tentu tersenyum...

Ketika Rasulullah mengajak kita untuk mengaji bersama, kita merasa malu karena tidak bisa mengaji serta berkata, "Maaf ya Rasulullah saya belum bisa ngaji". Alangkah malunya kita.

Beliau tentu tersenyum...

Ketika Rasulullah menanyakan tentang kehidupan kita dan kita menjawab, "saya masih jarang sedekah ya Rasulullah, saya masih sering meninggalkan shalat, menolong orang lain, dan kadang masih suka maksiat".

Beliau tentu tersenyum...

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga jarang melaksanakan shalat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga sangat jarang membaca Al-Qur'an. Barangkali kita menjadi malu karena ketidak pedulian kita pada oranglain.
Beliau masih tetap tersenyum...


Maafkanlah kami ya Rasulullah...
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum pedih dan senyum getir..
Oh betapa malunya kehidupan kita saat ini dimata Rasulullah......

Dikutip dari buku "Nutrisi Jiwa Islamic Food Combining For Your Soul and Mind"
Created by : Sang Pemenang

                                                   



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...