Agar anak-anak mengetahui risikonya bila berperilaku seks menyimpang.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan, bahwa membahas tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi antara orangtua dengan anak bukanlah hal yang tabu.
"Jangan menganggap pembahasan seksologi antara orangtua dengan anak adalah hal yang tabu, bahkan hal itu sangat penting," kata Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Sudibyo Alimoeso.
Menurutnya, orangtua justru memang harus membahas dan mengkomunikasikan mengenai masalah seksologi dan kesehatan reproduksi agar anak-anak mereka bisa menghindari berbagai permasalahan remaja.
"Permasalahan remaja antara lain seks bebas, HIV-AIDS, menikah muda, dan lain sebagainya," katanya.
Menurut dia, jika sejak awal dibangun komunikasi yang baik terkait masalah seksologi dan kesehatan reproduksi maka seorang anak dapat mengetahui dampak negatif seks bebas dan nikah terlalu muda.
"Seks bebas kan bisa mengakibatkan kehamilan di luar nikah dan akhirnya aborsi, bisa menularkan HIV-AIDS dan dampak negatif lainnya," katanya.
Sementara, menikah terlalu muda menurut dia bisa mengakibatkan proses melahirkan di usia yang terlalu dini yang bisa menjadi salah satu penyebab kematian ibu atau kematian anak.
Sudibyo menambahkan, menikah terlalu muda juga bisa memperpanjang masa reproduksi seorang perempuan sehingga kemungkinan melahirkan anak yang banyak sangat besar sementara hal tersebut bertolak belakang dengan program pemerintah yakni keluarga berencana dan upaya pengendalian jumlah penduduk.
"Jika seorang anak sejak dini diajarkan tentang dampak negatif seksologi oleh orangtua, maka anak tersebut bisa menghindarinya," katanya.
Tampilkan postingan dengan label bugil anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bugil anak. Tampilkan semua postingan
Ada Kecenderungan, Seks Diawali pada Usia Belasan Tahun
Banyak wanita yang kehilangan keperawanan saat usia menginjak 17-an tahun dan mulai sering melakukan seks di usia 25-an tahun. Sementara para pria, rata-rata hilang keperjakaan saat usia 18-an tahun dan mulai aktif bercinta di usia 29. Demikian menurut survey dari situs LoveHoney.
Survey juga menemukan, Usia 28 tahun adalah waktu yang terbaik bagi wanita untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan seksualnya. Sementara bagi pria, usia 33 tahun adalah masa keemasan untuk mendapatkan sensasi seks yang terbaik.
Dikutip Times of India dari Sun, zaman yang maju ini menunjukkan ada pergeseran dalam persepsi menjaga keperawanan maupun keperjakaan. Jika sebelumnya orang masih bisa menjaga keperawanan mulai dari usia 30-an tahun ke atas, kini usia belasan tahun sudah melakukan aktivitas seksual.
Survey ini juga menepis anggapan bahwa wanita lebih lama dalam menanggapi respon seksual. Bahkan, kematangan seksual wanita lebih cepat dari pria. Survey ini diikuti 1.281 orang dewasa.
Survey juga menemukan, Usia 28 tahun adalah waktu yang terbaik bagi wanita untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan seksualnya. Sementara bagi pria, usia 33 tahun adalah masa keemasan untuk mendapatkan sensasi seks yang terbaik.
Dikutip Times of India dari Sun, zaman yang maju ini menunjukkan ada pergeseran dalam persepsi menjaga keperawanan maupun keperjakaan. Jika sebelumnya orang masih bisa menjaga keperawanan mulai dari usia 30-an tahun ke atas, kini usia belasan tahun sudah melakukan aktivitas seksual.
Survey ini juga menepis anggapan bahwa wanita lebih lama dalam menanggapi respon seksual. Bahkan, kematangan seksual wanita lebih cepat dari pria. Survey ini diikuti 1.281 orang dewasa.
Langganan:
Postingan (Atom)

